Minggu, 26 Februari 2017

Apa Kamu Tidak Berpikir?

kalimat judul di atas sebenarnya kuambil dari cerita salah satu chufadz idolaku. Awal mulanya beliau bercerita tentang pengalaman beliau ketika belajar ilmu Qur'an dan hafalan di salah satu pondok pesantren di Surabaya. Tepatnya di daerah peneleh yang diasuh oleah salah satu kyai karismatik di Surabaya pada saat itu, beliau lebih dikenal panggilan Kyai Lan atau mbah Lan. Jadi Gus Muqarrobin bercerita bahwa dalam setiap menasehati santrinya yang bertindak kurang pas, Yai Lan sering menggunankan kalimat afala ta'qilun, yang artinya apakah kamu tidak berpikir?. seperti ketika seorang santri menaruh sepeda tidak pada tempatnya, atau menggunakan sepeda tanpa  ijin si mpunya. 

Kalimat ini jika kuresapi mempunyai arti yang sangat dalam dan penting meskipun hanya terdiri dari 4 kata saja. Setidaknya yang bisa digaris bawahi adalah seharusnya kita berpikir sebelum kita melakukan sesuatu, bahkan kalau yang dicontohkan di atas adalah temoat menaruh/memarkir sepeda ontel. Meskipun hanya berkenaan dengan tempat parkir sepeda, tentu jika sepeda itu ditaruh sembarang bisa berdampak kepada yang lain, baik itu dari segi keamanan maupun bisa mengganggu akses jalan orang lain. dan jika perbuatan kita itu bisa merugikan orang lain, maka bisa jadi kita telah melanggar hak orang lain yang selanjutnya bisa jadi kita mendholimi orang lain. Dari perkara kecil kalau dirunut akhirnya bisa terlihat dampak yang tidak kecil kan? Ini mungkin bisa telaah dengan contoh-contoh lain yang pernah kita alami di kehidupan kita sendiri. Seperti dampak membuang sampah sembarangan, dampak menaruh gelas di pinggir meja dan sebagainya.
Kebiasaanku salah satunya adalah memikirkan setiap kalimat yang sering diulang-ulang oleh guruku, termasuk kalimat afala ta'qilun ini yang akhirnya membawaku untuk mencari kalimat ini di alQuran, akhirnya, atas bantuan saudara tidak kandungku, kutemukan ayat yang mengandung frasa tersebut yaitu di Surat Al Baqarah ayat ke-44.  "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat). Maka tidakkah kamu berpikir".

Terlepas ada kaitannya atau tidak dengan cerita sebelumnya, insyaallah jika disambungkan dengan judul cerita ini ada kaitan yang menarik antara judul cerita ini dengan ayat di atas. Ayat tadi sebenarnya adalah sindiran kepada ahli kitab yang selalu menggembor-gemborkan untuk taat kepada Allah tetapi dia sendiri tidak melakukannya padahal mereka sudah mengetahui kebenaran bahwa ketaatan kepada Allah itu adalah wajib sebagaimana yang telah mereka ketahui dari kitab taurat. Maka sindirannya cukup jelas, mereka sudah tahu tapi melalaikan, ini artinya mereka tidak berpikir. Lebih parahnya lagi mereka menganjurkan orang lain melakukan kebaikan tapi mereka melalaikan kebaikan itu sendiri disini makin terlihat bahwa mereka tidak berpikir alias tidak mengakui kebenaran.
Belakangan ini kurasakan juga hal serupa di diriku sendiri, ya seperti ahlul kitab tadi, tau kebenaran, pernah menyampaikannya namun aku sendiri tidak melakukannya. Wah bahaya ini, sepertinya aku harus segera bertindak. Sikap ini tidak lain banyak dipengaruhi oleh nafsuku, nafsu pengen menang sendiri, pengen cepat kaya, pengen didengarkan dan pengen hidup enak. Apa ga boleh hidup enak? Ya sah-sah saja sih hidup enak, tapi mestinya aku cari hidup enak dengan cara yang bener juga dong. Memang yang namanya nafsu ini begitu lihai merekayasaku...hmm..
Biar ga mudah direkayasa harusnya aku ingat-ingat betul dawuhnya maulana habib alwi al haddad dalam salah satu karya beliau yang terkenal yaitu risalatul muawanah sebagai berikut:

وَمَتَي رَاَيْتَ مِنْ نَفْسِكَ تَكَاسُلًا عَنْ طَاعَتِكَ اَوْ مَيْلًا اِلَي مَعْصِيَتِهِ فَذَكِّرْ َها بِأَنَّ اللهَ يَسْمَعُكَ وَيَرَاك َوَيَعْلَمُ سِرَّكَ وَنَجْوَاكَ. فَإِنْ لَمْ يُفِدْهَا هَذَا المَذْكُوْرُ لِقُصُوْرِ مَعْرِفَتِهَا بِجَلَالِ اللهِ تَعَالَي فَاذْكُرْ لَهَا مَكَانَ المَلَكَيْنِ الكَرِيْمَيْنِ الَّذيْنِ يَكْتُبَانِ الحَسَنَاتِ وَ السَّيِّئَاتِ وَاتْلُ عَلَيْهَا : اِذْ يَتَلَقَّي المُتَلَقِّيَانِ عَنِ اليَمِيْنِ وَ عَنِ الشِّمَالِ قَعِيْدٌ مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ فَإِنْ لَمْ تَتَأَثَّرْ بِهَذَا التَّذْكِيْرِفَاذْكُرْلَهَا بِقُرْبِ المَوْتِ وَاِنَّهُ اَقْرَبُ غاَئِبٍ يُنْتَظَرُ وَخَوِّفْهَا بِهُجُوْمِهِ عَلَي غَيْرِكَ وَاِنَّهُ مَتَي نَزَلَ بِهَا تَنْقَلِبُ بِخُسْرَانٍ لَا اَخِرَ لَهُ فَإِنْ لَمْ يَنْفَعْهَا هَذَا التَّخْوِيْفُ فَاذْكُرْ لَهَا مَا وَعَدَ اللهُ بِهِ مَنْ اَطَاعَهُ مِنَ الثَّوَابِ وَتَوَعَّدَ بِهِ مَنْ عَصَاهُ مِنَ العَذَابِ الأَلِيْمِ وَقُلْ لَهَا يَا نَفْسُ مَا بَعْدَ المَوْتِ مِنْ مُسْتَعْتِبٍ وَمَا بَعْدَ الدُّنْيَا مِنْ دَارٍ اِلَّا الجَّنَّةُ اَوْ النَّاُر فَاخْتَارِي لِنَفْسِكَ اِنْ شِئْتَ طَاعَةً تَكُوْنُ عَاقِبَتُهَا الفَوْزَ وَ الرِّضْوَانَ وَ الخُلُوْدَ فِي فَسِيْحِ الجِنَانِ وَ النَّظْرَ اِلَي وَجْهِ الكَرِيْمِ المَنَّانِ وَ اِنْ شِئْتَ مَعْصِيَةََ يَكُوْنُ اَخِرُهَا الخِزْيَ وَ الهَوَانَ وَ السُّخْطَ وَ الحِرْمَانَ وَ الحُبْسَ بَيْنَ طَبَقَاتِ النِّيْرَانِ

Artinya: 

"Apabila engkau merasa malas untuk berbuat ketaatan kepada Allah dan merasa ingin melakukan kemaksiatan, maka ingatkanlah dirimu sendiri bahwasanya Allah itu Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Mengetahui Apa yang menjadi rahasia dan bisikan batinmu. Apabila cara ini tidak berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan dua malaikat yang amat mulia, yang senantiasa diperintah oleh Allah untuk mencatat amal kebaikan dan keburukan. Selanjutnya katakanlah kepada nafsumu, "Idz yatalaqal mutalaqiyaani 'anil yamiini wa 'anisy syimaali qa'iidun maa yalfadzu min qaulin illaa ladaihi raqiibun 'atiid ((yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir)". Apabila cara ini tidak juga berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan dekatnya maut. Sesungguhnya maut adalah sedekat-dekatnya perkara gaib yang setiap orang pasti menunggu datangnya waktu kematian. Apabila ia datang sedangkan engkau sedang melakukan perkara yang tidak diridhai oleh Allah, maka engkau akan mendapatkan kerugian yang tidak akan pernah putus. Apabila cara ini tidak juga berhasil, maka ingatkanlah nafsumu akan janji Allah bahwa Ia akan memberikan pahala kepada siapapun yang taat kepadaNya, dan memberikan ancaman berupa adzab yang sangat pedih bagi orang yang berbuat kemaksiatan dan dosa kepadaNya. Setelah itu, katakanlah kepada nafsumu, "Hai nafsu, tiadalah kesempatan untuk bertaubat setelah datangnya kematian, dan tiadalah tempat kembali setelah dunia kecuali kampung surga dan neraka. Maka pilihlah untuk dirimu. Jika engkau taat kepada Allah maka engkau akan mendapatkan keberuntungan, ridha Allah, kekal di dalam surga, dan dapat memandang wajahNya yang Maha Mulia. Sebaliknya, apabila engkau menginginkan maksiat, maka engkau akan mendapatkan kesedihan, kehinaan, kemarahan Allah, terhalang dari rahmat Allah, dan engkau akan terpenjara dalam derita di neraka."
Berarti sudah barang tentu aku harus menasihati diriku sendiri bahwa:

  • Allah Maha Tahu
Dulu sewaktu kecil pernah diceritain oleh allahummaghfirlahu bapak, Ada seorang kyai menyuruh beberapa orang santri untuk menyembelih ayam dengan satu syarat, yaitu tidak boleh ada yang tahu. Santri-santri tersebut akhirnya memilih tempat untuk menyembelih ayam. Saatnya laporan ke kiai, semua santri tadi balik ke pondok, santri pertama melaporkan bahwa dia menyembelih ayamnya di pinggir sungai yang deras sehingga dia yakin tidak ada orang yang melihat. Santri kedua, dia menyembelih di atas gunung sehingga dia yakin tidak ada orang yang melihat. Santri ketiga, dia melaporkan telah menyembelih ayamnya di dalam hutan belantara dan dia yakin tidak ada yang melihatnya. Dan santri ke empat, dia melaporkan bahwa dia tidak bisa menyembelih ayamnya sesuai dengan syarat yang diberikan oleh sang kiai. Sang kiai tersenyum lantas bertanya kepada santri keempat kenapa dia tidak bisa memenuhi syarat itu. Sang santri pun menjawab saya sudah me coba ke hutan, gunung, sungai, lembah, goa dan ke semua tempat, saya yakin bahwa tidak ada orang yang melihat, namun saya ingat dimanapun dan kapanpun Gusti Allah akan melihat saya, untuk itu saya ga bisa menyembelih ayam tersebut dengan syarat tidak ada yang tahu, karena ada Gusti Allah Yang Maha Tahu. 
Seharusnya aku inget ini, dan sekarang aku sudah tau. Tapi kenapa tetap kulupakan. Apakah aku sudah berpikir?

  • Ada dua malaikat yang selalu mencatat 
Jumlah malaikat yang wajib diketahui ada 10. Dan 2 diantaranya selalu setia mencatat semua perbuatan kita. Perbuatan baik dicatat begitu juga perbuatan buruk sekecil apapun bentuknya. Seharusnya dengan mengingat hal ini aku bisa lebih semangat untuk berbuat kebaikan dan takut untuk berbuat kebatilan. Aku sudah tau ini, tapi kenapa masih kulanggar ya? Jangan-jangan aku lupa berpikir sebelum bertindak. Allah...

  • Ingat mati
Diceritaku sebelumnya kusinggung bahwa akhir kehidupan dunia ini adalah kematian, dan bagaimana kita ingin dikenang setelah mati. Namun, kehidupanku itu tidak hanya sampai kebidupan dunia saja loh. Ada kehidupan akhirat. Dan itu dimulai ketika mati. Lhuk bukannya ketika mati kita semua terputus dari ibadah kecuali amal shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh yang mendoakan kita. Kita sudah gak bisa lagi berbuat baik, gak bisa lagi mohon ampunan, ga bisa lagi nambah timbangan kebaiakan. Bagaimana jika ketika aku mati nanti dalam keadaan hina ?(naudzubillah mindalik). Bagaimana jika aku nanti mati dalam keadaan sedang berbuat jahat ke orang lain, dzolim dsb? (Naudzubillah mindalik) harusnya ingatan ini membuatku berpikir sebelum bertindak.

  • Allah Maha menepati janji
Ampunan Allah, Rahmat Allah itu buanyak dan ga bakalan habis. Tentunya ini  berlaku bagi hambanya yang terpilih yaitu mereka yang beriman dan bertakwa kepadaNya, mereka yang dengan serius memohon ampunan, mereka yang serius meminta kasih sayangnya. Namun bagi mereka yang lalai akan keberadaanNya tentulah azab yang pedih menantinya. Harusnya aku memikirkan hal ini sebelum bertindak.

Ya Allah sudah banyak pengetahuan dan jalan yang engkau tunjukkan kepadaku untuk selamat dunia akherat. Namun, itu semua kulupakan sebelum melakukan sesuatu. Itu semua karena aku tidak berpikir ya Allah. Ya Allah semoga dengan menulis kan hal ini kembali bisa me refresh otak dan nafsuku untuk berpikir tentang kuasa Mu sebelum aku berbuat sesuatu. Jangan jadikan hambaMu ini seperti ahlu kitab di atas, yang tau, yang menasihati, tapi tidak melakukan kebaikan dan ketaatan.

Diakhir cerita ini ijinkan aku memohon seperti syair yang diucapkan imam syafii beberapa saat sebelum beliau berpulang ke rahmatullah 
“Kala hatiku mengeras dan jalanku mulai menyempit
Aku hanya bisa mengharap titihan ampunan-Mu
Dosa-dosaku amat besar, namun jika aku bandingkan
Dengan ampunan-Mu, ya Robb, ampunan-Mu jauh lebih besar
Engkau Senantiasa melimpahkan ampunan atas segala dosa
Dan Engkau tiada pernah bosan memberi ampunan.”
(Sifat Ash-Shofwah, 3/146)

Wallahu a'lam bishowab.
Cerme, 1 February 2017, dikala lampu mati


CakS
cerita selengkapnya

OK Google,bukan Guru Ngaji

Awalnya juga bingung kenapa tiba-tiba keluar kalimat ini. Sebenarnya kalimat ini bermula ketika di salah satu group chatku ada yang design kaos lucu soal google dan kyai, nah tertarik dengan tema yang sama maka keluar lah design ala ndingkluk dengan kalimat "ok google, bukan guru ngaji"

Design kaos ini tidak hanya diilhami oleh design kaos yang ada di group chat tadi tetapi juga didasari oleh beberapa fenomena yang terjadi di beberapa tahun belakangan ini. Munculnya ustadz-ustadz baru, berseliwerannya posting soal agama, pemaknaan alQuran dan hadits. Di satu sisi memang bagus sih syiar agama semakin gencar, namun di sisi lain ada kekhawatiran dan pertanyaan dari diriku sendiri tentang materi yang disampaikan ustadz ustadz tadi ataupun postingan yang beredar di dunia maya. Apalagi ketika yang mendengar "ustadz" ceramah tapi hanya menyebut sumbernya dari AlQuran hadits, tidak menyebutkan sanad dari apa yang dia sampaikan. Postingan juga gitu semuanya ngomong AlQuran dan hadits. Akhirnya bingung sendiri aku, darimana mereka belajar kok bisa cepat paham alQuran hadits tanpa belajar di pondok/sekolah/majlis ta'lim. Ngobrol dengan beberapa orang sampailah pada salah satu jawaban "ya kan banyak di internet, kamu cari apa saja tanya mbah google ".
Alchamdulillah...ternyata di internet memang bisa cari dan tanya tentang apa saja termasuk di dalamnya masalah yang berkenaan dengan agama, hmmm apakah ini ya yang menyebabkan semua orang sekarang pinter njawab atau komentar soal masalah keagamaan? Mulailah aku berselancar mencari ilmu di dunia maya, uenakk semuanya ada, namun semakin ke sini semakin hampa kurasakan. Materi yang kutemukan lewat mbah google terasa selalu ada yang kurang, yaitu kehadiran soal guru. Aku ga pernah tau apa yang kubaca itu memang sudah bener? Sampai aku bertanya apakah google ini memang guruku, karena dia bisa menjawab semua pertanyaan. Dek, seketika aku inget bagaimana sikap allahumma firlah bapak, alfatiha. Beliau kalau ditanya tentang sesuatu beliau kalau tau jawabannya akan menjawabnya dan ditambahi dengan kalimat "nanti aku coba lihat kitabnya lagi ya" dan ketika beliau tidak yakin atau tidak tau maka beliau akan menjawab tidak tau dan akan menanyakan kepada guru-guru dan teman2 beliau terlebih dahulu. meskipun jawabannya tidak akan secepat mbah Google, rasa-rasanya lebih pas jawaban yang diutarakan beliau hasil membuka kitab atau bertanya ke Gurunya.
Pengalaman tersebut membawaku teringat pada sebuah kitab karya Syech Zarnuji yang terus dikaji dan dipelajari di pondok pesantren yaitu kitab ta'lim Muta'allim. Kitab ini merupakankitab yang harus dibaca dan diresapi oleh para pencari ilmu, karena banyak rahasia mendapatkan ilmu yang tercantum dalam kitab ini mulai dari bagaimana mengatur niat, bagaimana tatacara mencari ilmu, memilih guru, memilih teman, waktu belajar hingga wara' serta hal-hal yang yang berpengaruh pada hafalan dan juga rizki. Melihat kembali ke kitab ini jadi ada gambaran yang cukup jelas sehingga bisa bisa diambil kesimpulan bahwa Google tidak bisa dijadikan guru ngaji. Kenapa seperti itu? karena ada syarat-syarat yang tidak bisa dipenuhi oleh Google untuk bisa disebut sebagai seorang Guru. salah satunya adalah sanad keilmuan. Seberapa besar sih pentingnya sanad keilmuan ini? 
sanad adalah silsilah atau mata rantai yang menyambungkan kita dengan sebelum kita, jadi sanad adalah hubungan. Kalau secara bahasa sanad adalah sesuatu yang terkait kepada sesuatu yang lain atau sesuatu yang bertumpu pada sesuatu yang lain. Tapi dalam makna ini secra istilah adalah bersambungnya ikatan batin kita, bersambungnya ikatan perkenal kita dengan orang lain, sebagian besar adalah guru0guru kita. Sanad ilmu / sanad guru sama pentingnya dengan sanad hadits. Sanad hadits adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan matan/redaksi hadits dari lisan Rasulullah. Sedangkan sanad ilmu atau sanad guru adalah otentifikasi atau kebenaran sumber perolehan penjelasan baik AlQuran maupun AsSunnah dari lisan Rasulullah. Demikian juga dengan sanad guru agama, sama pentingnya karena sebagai pertanggung jawaban ilmu yang diajarkan dan orisinalitas ilmu, maka dengan pengertian di atas sepertinya kita tidak bisa menjadikan Google sebagai guru ngaji, karena tidak ada sanad yang menyambung sampai ke Rasulullah. Lalu apakah boleh cari ilmu dari Google? Boleh saja, tetapi tidak bisa ditelan secra mentah-mentah harus dikaji ulang dengan guru ngaji beneran. Barangkali perlu kita ingat kembali Hadits Nabi Muhammad Saw yang diriwiyatkan oleh imam Tirmidzi berikut " Barang siapa berkata mengenai AlQuran tanpa ilmu maka ia menyediakan tempatnya sendiri di neraka." Itulah salah satu bahaya menafsirkan alQuran dengan sembarangan.Nah loh, ini merupakan peringatan keras bagiku yang sering mencoba menafsirkan AlQuran dan Hadits dengan pengetahuanu yang dangkal. Semoga Gusti Allah segera memberikan petunjuknNya.
Mungkin ada baiknya kita simak apa yang pernah disampaikan oleh Habib Mundzir alMusyawa:
"Sanad adalah bagai rantai emas terkuat yang tidak bisa diputus dunia akherat, jika bergerak satu mata rantai maka bergerak seluruh mata rantai hingga ujungnya, yaitu Rasulullah saw. Orang yanng berguru tidak kepada guru tapi kepada buku saja, maka ia akan menemui kesalahannya karena buku tidak bisa menegur tapi kalau guru bisa menegur, jika ia salah atau tidak faham ia bisa bertanya, tapi kalau buku jika ia tidak faham, ia hanya terkait dengan pemahaman dirinya, maka sebab itu guru tetap penting. Jadi tidak boleh hanya membaca dari buku, tentunya boleh baca buku apa saja, namun kita harus mempunyai satu guru yang kita bisa tanyai jika kita sedang mendapatkan masalah."
Selain untuk menjawab pertanyaan, fungsi seorang guru adalah sebgai pembimbing kita untuk menemukan jalan yang diridloiNya, bagaiama mungkin kita memilih guru yang belum pernah menemukan jalan tersebut. Banyaknya ustadz yang berseliweran di media social pun mesti kita cermati sanad keilmuannya, karena tidak sedikit dari mereka yang ternyata belum berguru, lantas bagaimana dia akan mempertanggungjawabkan ilmunya, sebagaimana tadi yang disampaikan oleh habib Mundzir.
Maka adalah menjadi penting untuk datang ke majelis-mejelis keilmuan yang membahas kitab-kitab dari ulama terdahulu, kalau ngaji tanpa kitab kok sepertinya juga kurang pas, apalagi jika dia hanya berdasarkan pemahaman dia terhadap qura'an atau hadits, atau lebih parahnya lagi ada loh ustadz yang tidak mengakui bahkan mengajak untuk tidak percaya pada para imam madzhab. Karena menurut mereka yang mesti diikuti adalah Rasulullan bukan imam madzhab itu. Iya bener memang harus ikut Rasulullah, namun bagaimana kita bisa mengikuti kanjeng nabi jika kita tidak tau kehidupannya saben waktu. Kan ada shahih bukhari, shahih Muslim, sunan ibn Majah, sunan Abu Dawud dan kitab-kitab lainnya yang bisa kita akses bebas? iya tapi apa sudah benar pemahaman kita tentang hadits-hadits tersebut? rasanya sangat Naif jika kita mengesampingkan apa-apa yang pernah disampaiakan oleh ulama salafus saleh melalui kitab-kitabnya. Berapa sih hadits yang kita baca? bagaimana penguasaan bahasa kita dan berapa jauh jarak kita ke Kanjeng Nabi? Maka jika ada orang yang tidak mau bermadzhab maka menurutku orang itu sungguh terlalu sok tahu. Lah, imam imam madzhab itu loh cukup dekat dengan kanjeng nabi dibandingkan dengan dia, dan beliau-beliau itu tidak hanya membaca hadits namun hafal ribuan hadits. Jika ada ustadz yang mengatakan tak perlu madzhab maka segera tinggalkan dia.
Tingkat keilmuan tidak hanya ditunjukkan oleh seberapa panjang jenggotnya, seberapa lebar gamisnya atau seberapa hitam keningnya. Seorang guru adalah mereka yang telah melakukan apa yang dia ajarkan, mereka yang akan menjadi penangung kita di akherat kelak, dan yang paling penting adalah mereka yang menemani kita menemukan hidayaNya. 
Semoga kita diberi petunjuk dan hidayah untuk menemukan ilmu yang bermanfaat dengan guru yang tepat.

Waallahu a'lam bishowab..

Surabaya, 17 januari 2017
cakS
cerita selengkapnya

Senin, 19 Desember 2016

Rindu

Hari minggu 111216 kemarin merupakan hari bersejarah bagiku karena pada hari itu setelah sekalian lama tepatnya klo ga salah sejak 1998/1999 baru minggu kemarin mengangkat dan menabuh terbang/rebana lagi. Itupun karena tim penabuhnya kurang. Dan secara spontan kuambil dan kutabuh terbang rebana itu, bukan karena memperingati harbolnas(hari belanja online nAsional) tapi demi event amaliah yang jauh lebih besar dan mulia, yaitu merayakan maulid Nabi Muhammad saw, manusia termulia di alam semesta.
17 tahun tidak pernah main terbang hadrah jadi sedikit kikuk dengan tempo pukulan, telapak tangan panas memerah dan keringat mulai keluar. Alunan bacaan sholawat dan tabuhan rebana secara ga langsung membawa pikiranku dan hatiku kepada sosok seorang paling mulia seantero jagad. Seorang yang syafaatnya kita harapkan dan tauladannya yang harus kita tiru. Setelah bacaan sholawat selesai, hati ini terasa sedikit gelisah, sedangkan pikiran dipenuhi pertanyaan "mungkinkah berjodoh bertemu dan bisa bersamanya kelak?". Ditengah carut marut kebidupan yang kujalani ditengah kondisi bumi yang semakin panas, dinamika kehidupan sosial yang terus bergerak, dan makin jelaslah bahwa aku rindu padanya, hamba paling dikasihi oleh Allah, Nabi Muhammad saw. Tapi benarkah aku merindu? Atau hanya melow sesaat aku ini.
Rasa rindu itu bukankah hanya dimiliki oleh seseorang yang mencintai seorang atau yang lainnya? Rasanya malu sendiri aku menjawab pertanyaanku tadi, karena setelah kuraba diri ini masih sangat jauh rasanya dari mencintainya. Orang yang mencintai seseorang tentu dia akan mencoba melakukan apa yang disenangi oleh orang yang dicintainya. Jika yang dicintai sangat menyayangi anak yatim, seyogyanya aku juga menyayangi anak yatim, tapi nyatanya, boro-boro menyayangi anak yatim, riski yang kusalurkan ke mereka masih jauh lebih kecil dari total  belanja perutku, boro-boro menyayangi mereka, memikirkan merekapun otakku ini sangat malas dibandingkan untuk memikirkan target mimpi di masa depan, dan bagaimana bisa hidup enak. 
Ketika orang yang kucintai sangat menjunjung kasih sayang. Maka sudah sepatutnya itulah yang jadi pijakanku bertindak, nah ini ga, jangankan berkasih sayang kepada seluruh manusia, sama anak, istri dan keluarga yang saben hari ketemu, terkadang masih sering marah-marah, dongkol ga jelas. Sering mengabaikan mereka. Jangankan soal kasih sayang ke seluruh umat manusia, ke sesama golongan saja terkadang aku masih merasa paling benar, menganggap yang tidak se aliran se pikiran adalah salah! Meneriaki mereka sebagai yang tak peduli agama, dan lain sebagainya. Dan bagaimana mungkin aku bisa mengasihi semua manusia, kalau di hati ini masih ada rasa jumawa, merasa memiliki kekuasaan atas manusia lainnya, masih sering menginjak manusia yang lain dan tidak pernah ndingkluk sebagaimana dicontohkan panutanku yang mulia kanjeng Nabi muhamad saw.
Segala jenis permasalahanku dari masalah ekonomi, hubungan sesama manusia dan kemalasan dalam ibadah harusnya bisa terselesaikan jika dan hanya jika aku ikut yang dicontohkan olehnya, seharusnya aku mengikuti tuntunan yang diwariskan olehnya. Quran dan hadis. Namun, bagaimana bisa aku dapat jawaban jika membaca dua warisan tadi sudah malas duluan, ok baca sesekali bisa, walaupun hanya sesekali, dan bagaimana bisa mendapatkan petunjuk dan jawaban permasalahanku jika paham isi dari quran dan hadits saja tidak tahu, bagaimana bisa paham isinya jika belajarku hanya ke google tanpa menghadiri majelis ilmu dan tanpa mendekatkan diri dengan para ulama yang menjadi pewaris nabi. Jangankan mendekat, yang ada hanya keraguan atas mereka, malah terkadang gosipin mereka dan meremehkan mereka.
Jika saja aku mengikuti jalan yang telah dicontohkannya niscaya aku akan sampai kepadaNya dan kekasihNya. Bisa selamat dalam menjalani kehidupan. Ternyata cintaku selama ini masih abal abal tidak murni seratus persen karena cintaku kepadanya jauh lebih sedikit dibandingkan cintaku ke selain dia.
Semoga kerinduanku kepadanya sebagai salah satu jalan menyampaikan rasa cintaku kepadanya. Dengan mengharap ridho dan pertolongan Allah, semoga bisa dijadikan barisan umat Nabi Muhammad. Mencintai dan merindunya dengan tulus dan sebenarnya. dan semoga Gusti Allah memberikan ampunan lantaran barokah dari Nabi Muhammad yang mulia ini.

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shochbihi wa sallam 

Wallahu a'lam bishowab
Surabaya, 13 Desember 2016, 13 Rabiul awal 1438

cak S
cerita selengkapnya